Diplomasi yang dilakukan Presiden Republik
Indonesia Prabowo Subianto dalam kunjungan
kerja ke Washington D.C., Amerika Serikat,
membuahkan hasil konkret bagi perekonomian
dan kedaulatan energi kita.
Di tengah padatnya agenda Board of Peace,
Presiden Prabowo menjadi satu-satunya kepala
negara yang menggelar pertemuan bilateral
secara langsung dengan Presiden Amerika
Serikat Donald Trump.

Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan
strategis, yaitu:
- Tarif perdagangan berhasil diturunkan
hampir 50 persen, dari 32 persen menjadi 19
persen, serta pemberian fasilitas tarif 0 persen
bagi 1.819 produk unggulan Indonesia,
khususnya sektor pertanian dan industri
strategis, yang membuka ruang ekspansi lebih
luas di pasar global. - Indonesia membuka pintu investasi bagi
perusahaan AS di sektor mineral kritis, dengan
tetap mengedepankan regulasi nasional,
kedaulatan sumber daya alam, serta agenda
hilirisasi dan peningkatan nilai tambah di
dalam negeri. - Pemerintah mengalokasikan pembelian
energi dari AS senilai USD 15 miliar. Ini bagian
dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan
energi dan keseimbangan neraca perdagangan,
tanpa menambah ketergantungan impor,
melalui optimalisasi dan penataan ulang
sumber pasokan dari berbagai negara mitra.
Pertamina juga merintis kerja sama teknologi
dengan mitra AS untuk mengoptimalkan ladang
minyak nasional. - Porsi saham Indonesia di PT Freeport
Indonesia ditargetkan dari 51 persen naik
menjadi 63 persen pada tahun 2041, dengan
skema penerimaan negara dan royalti untuk Papua. Di sektor migas, komunikasi lanjutan
dilakukan dengan ExxonMobil untuk
perpanjangan operasi hingga 2055, dengan
rencana investasi tambahan sekitar USD 10
miliar guna menjaga dan meningkatkan
produksi nasional.

Pemerintah menegaskan bahwa seluruh
negosiasi, baik di sektor tambang maupun
migas, dilakukan dengan tetap mengacu pada
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang
menempatkan pengelolaan sumber daya alam
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.





